Program Kami

Eco-English Conversation Club (EECC)

Eco-English Conversation Club (EECC) adalah program eco-literasi yang menggabungkan pendidikan lingkungan dan pembelajaran Bahasa Inggris dalam satu ruang belajar yang interaktif, kontekstual, dan menyenangkan. Program ini berupaya menciptakan ruang belajar yang aman dan saling mendukung agar peserta tidak takut untuk melakukan kesalahan sehingga proses belajar lebih optimal.

 

Melalui komunitas yang kemudian bernama Eco-English Jogja,  peserta diajak untuk mendiskusikan berbagai isu lingkungan seperti perubahan iklim, pengelolaan sampah, konservasi alam, serta gaya hidup berkelanjutan, sambil menambah keterampilan berbahasa Inggris. Pembelajaran dirancang agar peserta tidak hanya memahami kosakata dan percakapan dalam Bahasa Inggris, tetapi juga mampu mengartikulasikan gagasan serta pandangan mereka terhadap persoalan lingkungan secara kritis.

EECC angkatan pertama dirancang khusus untuk remaja usia 15–20 tahun sebagai generasi muda di Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan. Kami menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya mengasah kemampuan bahasa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian sosial.

Program ini menggunakan pembelajaran bahasa Inggris sebagai alat untuk memperkenalkan isu-isu lingkungan kepada anak muda. Di sini bahasa Inggris ditempatkan sebagai alat untuk mengekspresikan pengetahuan lokal pada audiens global, disamping sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan dari sumber-sumber global. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, di setiap pertemuan, peserta didorong untuk mencatat pengetahuan dan kosa kata baru yang mereka dapatkan. Kosa kata ini kemudian dikumpulkan dan dicetak menjadi flashcard atau kartu kosa kata yang berisi: kata, arti, cara pengucapan, dan contoh penggunaan dalam kalimat. Kartu ini tidak hanya menjadi pengingat apa yang telah dipelajari oleh peserta tetapi juga bisa menjadi alat edukasi lingkungan sekaligus belajar bahasa Inggris untuk orang lain.

Fieldtrip atau kunjungan langsung ke lapangan menjadi kekuatan program ini. Hampir setiap pertemuan dilakukan ditempat yang berbeda dan bertemu dengan orang yang berbeda, dengan isu lingkungan yang berbeda. Peserta tidak hanya belajar beragam isu lingkungan tetapi juga bertemu langsung dengan para praktisinya; mendengarkan pengalaman hidup mereka dan bagaimana mereka menghadapi tantangan yang mereka alami. Peserta tidak hanya belajar tentang isu lingkungan tetapi juga belajar tentang hidup itu sendiri dari berbagai perspektif.

 

Melalui kunjungan lapangan ini, peserta berkesempatan untuk berdialog, mengamati praktik-praktik keberlanjutan, serta memahami bagaimana komunitas membangun solusi terhadap isu lingkungan di tingkat lokal. Pendekatan berbasis pengalaman yang harapannya dapat memperkaya proses belajar sekaligus membangun keterhubungan yang lebih kuat antara pengetahuan, bahasa, dan praktik kehidupan sehari-hari.

Caption: Dengan Pak Lim belajar pentingnya burung hantu bagi petani dan ekosistem.

Eco-Literasi

Bagi kami, eco-literasi adalah kemampuan untuk memahami hubungan antara manusia dan alam, sekaligus kesadaran untuk menjaga keberlanjutan lingkungan melalui tindakan nyata.

 

Melalui pendekatan belajar yang dialogis, partisipatif, dan berbasis komunitas, peserta didorong untuk mengenali persoalan lingkungan di sekitar mereka serta mencari solusi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan memadukan diskusi, praktik bahasa, dan pengalaman lapangan, eco-literasi menjadi ruang belajar yang mendorong perubahan pengetahuan menjadi aksi.

Peer Eco-Facilitator

Setelah peserta Eco-English mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung, mereka kemudian didorong untuk membuat kegiatan mereka sendiri untuk teman-teman sebaya mereka. Mereka merancang program untuk mempromosikan literasi lingkungan dan praktek berkelanjutan pada kelompok sebaya mereka. Beberapa contoh yang sudah berjalan dan sedang direncanakan oleh anggota Eco-English Jogja antara lain.

Kegiatan Outreco-Owah

Berupa kegiatan penjangkauan (outreach) anak muda agar berubah (Jawa: owah). Kegiatan ini bertujuan selain untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, juga mengurangi ketergantungan anak muda pada telepon genggam, serta mengembalikan kebiasaan menulis jurnal. Kegiatannya berupa  ekspose langsung ke lokasi pengelolaan sampah di TPS 3R dan ikut memilah sampah, meditasi mindfulness, pengenalan alam, dan journaling.

 

Hari pertama peserta diajak menjadi pemulung keliling kampung dengan japitan sampah. Lalu sampah-sampah itu dibawa ke TPS 3R dan dipilah-pilah sesuai klasifikasi yang ada di TPS. Mereka juga mereka juga terlibat langsung pengelolaan sampah yang ada di TPS. Ini bertujuan untuk memberi anak muda pengalaman berinteraksi langsung dengan sampah dan belajar berbagai metode pengelolaannya

 

Hari kedua, peserta diajak meditasi di dua lingkungan yang berbeda, yang polusi (udara dan suara) dan yang hijau lebih tenang, mengenal lebih dekat flora dan fauna, dan menuliskan pengalaman mereka melalui kegiatan journaling. Melalui kegiatan ini mereka berharap teman-teman sebaya mereka mempunyai kesadaran lingkungan dan perubahan perilaku yang lebih peduli lingkungan.

Color Kelor Project

Berupa pembuatan tempat sampah botol plastik yang menarik dan edukatif, dan pembuatan mesin pres plastik yang berfungsi untuk memadatkan sampah botol plastik agar lebih efisien dalam penyimpanan dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi di bank sampah. Kegiatan ini melibatkan anak muda karang taruna.

Geotrack Merapi

Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak anak muda untuk mengenal alam lebih dekat melalui belajar mengenai bebatuan. Kegiatan dilakukan di Taman Wisata Lereng Merapi.